Oleh lalu ariefhyn’s iwan darmadjie pada 8
january 2013 pukul 15:24 ·
31 Desember 2012 11:45 AM
Pukul 11:55 aku mendapat kabar duka. kakakku, menelpon memberitahukan bahwa mamik baru saja meninggal
secara tiba – tiba 1/2 jam yang lalu,1/2 jam kemudian, aku sudah berada di rumah sakit umum mataram berusaha menenangkan dan menemani kakakku. Aku bahkan ikut meneteskan air mata melihatnya seperti itu. “hmm, semua orang pasti mati… Udh yaa… Jng ditangisi lagi… Qt berdoa aja semoga
mamik dapet tempat yang lebih baik sekarang… Qt juga berusaha
biar nantinya bisa ketemu mamik lagi…” aku tidak bisa
memikirkan kata – kata yang lebih baik lagi untuk menghiburnya. Dan seperti
itulah, semanis apapun kalimat yang aku ucapkan, tidak akan bisa menghapus air
matanya karna rasa kehilangan yg begitu dalam. Bahkan untuk seorang lalu ariefhyn’s yang begitu pintar memaknai kehidupan dan kematian pun tak sanggup
mengelak dari kesedihan saat musibah seperti itu menyapaku. Oh Tuhan, tolong… Aku percaya Kau Maha tahu. Sebatas mana kemampuanku
untuk menerima semua ini… Tolong jangan renggut orang – orang yang kucintai
secara tiba – tiba seperti yang terjadi sekarang, Tuhan…
Aku terdiam… Bingung harus berkata apa… dengan ponsel masih menempel d
telinga kiri, aku memutar otak berusaha menemukan kata – kata yang pantas untuk
kuucapkan d saat seperti sekarang ini. Sementara d ujung telp suara isak tangis
kakakku semakin menjadi – jadi… Oh Tuhan, apa yang harus
kukatakan untuk menunjukkan rasa sedihku…?? Apa yang harus
kuucapkan untuk menenangkan hati kakakku yang baru saja
kehilangan mamiknya inii…?? “Sabar yaa kak… udh2, tenang… jangan nangis lagi…” Damn… that’s the best I can say…??
Bodohnya aku jika berharap kakakku akan berhenti
menangis saat itu juga…!!!
Kematian memang hal yang ajaib... Bahkan jika kematian menyapa orang yang
kau pikir akan kau benci seumur hidupmu sekalipun, kau tidak akan sanggup merasa
barsyukur atas kematiannya. Akan selalu ada perasaan yang mengganggu menerpamu.
Apalagi jika yang meninggal adalah you’r father. Kau tidak akan
sanggup untuk tidak bersedih dan meneteskan air mata. Seperti halnya aku, kakakkku. Setiap kali dia membahas tentang mamiknya denganku, yang keluar dari mulutnya hanyalah “Sampe mati aku gk bakal
maafin dia…” atau “Aku benci dia seumur hidupku…!!!”. Yaah mungkin ada kata –
kata lain, tapi intinya gk akan jauh meleset dari 2 kalimat diatas. Aku tahu,
dia tidak mungkin serius dengan kata – katanya tentang mamikya itu. Buktinya sekarang... Dia menangis sesenggukan seraya memelukku …”
begitulah ungkapan penyesalan, suara tangisnya terdengar begitu pilu dan penuh
rasa bersalah.
Seperti inikah rasanya…? Kehilangan orang yang qt sayangi untuk selamanya.… Selama inii, aku selalu berpikir bahwa aku tidak akan menangis jika ortuku meninggal. Tapi buktinya… sudah hampir seminggu sejak kematiannya, tapi aku masih menangisinya setiap malam… Aku tidak percaya dia sudah
tiada… mamik meninggal setelah 3 hari koma karena kecelakaan… saat masa – masa komanya aku selalu datang dan
berusaha memberinya semangat untuk tetap hidup. Meskipun aku tetap optimis dia
akan kembali sehat, tapi pesimisme dan ketakutan akan kehilangannya terkadang
muncul d dalam pikiranku. Karena itu, tanpa sadar aku mulai mempersiapkan diri
untuk kemungkinan terburuk. Kata – kata seperti “Jikalau mamik benar – benar pergi, itu tandanya Tuhan mengangkatnya ke tempat yang lebih
baik” atau “Aku akan berusaha tegar jika sesuatu terjadi…” bermain – main dalam
otakku. Pada saat itu, aku begitu yakin akan dapat menghadapi semua inii dengan
tabah tanpa air mata, tapi nyatanya…? Terlalu menyakitkan… Aku tidak bisa
berhenti mengingat saat – saat kebersamaan kami… Cara dia memanjakanku,
melindungiku, dan bahkan sekedar mengingat senyumannya saja membuatku kembali
meneteskan air mata… Aku menyadari satu hal… Qt bisa saja mempersiapkan diri
untuk menghadapi kemungkinan terburuk, tapi sekeras apapun qt berusaha, pada
saat hal buruk itu datang qt tetap saja terpukul, terpuruk, bahkan mungkin
lebih parah daripada itu. Tuhan… Aku begini hancur karena kehilangan mamik, bagaimana mungkin aku sanggup jika harus kehilangan keluargaku… Panggil
saja aku sebelum kau memanggil mereka…
Mantap Met. gabung juga dengan blog ku di http://ikhsantrytostart.blogspot.com
BalasHapus